Siapa nih yang tidak kenal dengan tali rafia? Anda pasti sudah sering menemukan bahkan menggunakannya. Dengan sejarah tali rafia yang cukup beragam, jenis tali yang satu ini memang menjadi salah satu tali yang sering digunakan untuk berbagai keperluan.
Mengulik Sejarah Perkembangan Tali Rafia
Tidak banyak orang mengetahui seperti apa asal usul dari tali rafia ini. Akan tetapi tidak sedikit yang mengatakan jika tali rafia berasal dari Jepang, terutama karena di daerah Banjar, Kalimantan tali ini disebut dengan rumput Jepang.
Banyak orang juga menyatakan jika tali rafia berasal dari tanaman “Raphia” yang merupakan pohon palem dan serat yang diekstrak dari pohon Raphia farinifera. Tanaman ini berasal dari wilayah Madagaskar, sebuah pulau di lepas pesisir timur Afrika.
Daun-daun pohon yang berukuran panjang kemudian dikeringkan dan dipotong menjadi irisan tipis. Potongan ini kemudian akan digulung sedemikian rupa sehingga membentuk tali rafia yang kita kenal selama ini.
Dari proses ini, bisa dihasilkan lebih dari 10.000 ton per tahunnya. Terlepas dari sejarah dan asal-usulnya yang masih belum diketahui secara pasti, tidak dapat dipungkiri jika tali rafia merupakan salah satu jenis tali yang banyak digunakan dibandingkan jenis tali lainnya.
Di balik harganya yang murah, tali dengan bahan baku plastik ini cenderung lebih kuat untuk mengikat dibandingkan dengan jenis tali yang lain.
Tali rafia juga dikenal sebagai jenis tali yang cukup fleksibel dan mudah dimanfaatkan. Anda dapat membuat berbagai kerajinan tangan dari jenis tali yang satu ini.
Bahkan jika kita memanfaatkan tali rafia ini, maka kita akan sama-sama mendukung pengurangan limbah plastik karena rafia memang dapat dibuat dari berbagai limbah plastik.
Pembuatan Tali Rafia
Setelah mengetahui sejarah tali rafia yang cukup singkat ini, tentunya Anda perlu mengetahui bagaimana pembuatan tali serbaguna tersebut. Bisa dibilang, jenis tali yang satu ini mudah dibuat dengan sifatnya yang ramah lingkungan.
Untuk mendapatkan rafia yang sudah jadi pun mudah karena biasa dijual di warung dengan harga yang sangat murah. Pembuatan tali yang satu ini juga cenderung sederhana.
Terlebih, bahan baku yang dibutuhkan juga terbilang mudah didapatkan. Saat ini, sudah banyak pabrik tali rafia yang menggunakan plastik bekas baik dari limbah sisa pabrik maupun limbah rumah tangga.
Ada juga yang membuat tali rafia dengan bahan utama limbah karung PP (Polipropilena) yang nantinya akan dibuat menjadi rafia dengan berbagai kualitas dan tekstur.
Adapun proses pembuatan tali rafia setiap pabrik sejatinya berbeda-beda, namun secara umum dapat diproses sebagai berikut.
Crushing (Pencacahan)
Menurut sejarah tali rafia dan perkembangannya, sebelum masuk ke dalam mesin pencacahan, pihak produsen biasanya akan melakukan pemilahan bahan baku terlebih dahulu.
Adapun bahan baku yang biasa digunakan adalah limbah PP sehingga perlu dipisahkan dengan bahan-bahan lainnya supaya tidak mengganggu kualitas produksi.
Setelah dilakukan pemilahan, langkah selanjutnya yakni memasukkan bahan baku tersebut ke dalam mesin crusher supaya volume atau bentuk bahan baku tersebut menjadi lebih kecil.
Ukuran yang kecil ini tentu saja akan memudahkan proses produksi selanjutnya.
Washing (Pencucian)
Langkah selanjutnya yakni mencuci bahan baku yang sudah berukuran kecil tersebut. Adapun caranya juga sangat sederhana, yakni memasukkan bahan baku ke dalam bak pencuci dan mesin akan secara otomatis membersihkan kotoran yang menempel.
Proses pencucian biasanya dilakukan beberapa kali hingga bahan baku menjadi benar-benar bersih. Kebersihan bahan baku tentu saja penting supaya proses peleburan menjadi lebih mudah dilakukan karena jika kotor, maka hasil akhirnya juga akan kurang baik.
Setelah dicuci bersih, tahap selanjutnya adalah pengeringan. Di berbagai pabrik, tahap pengeringan ini dilakukan menggunakan mesin oven khusus sehingga tidak merusak tekstur bahan baku.
Jika sudah kering, maka bahan tersebut siap untuk diikutkan proses berikutnya.
Melting (Peleburan)
Dalam perkembangan sejarah tali rafia, pembuatan tali tersebut juga melalui proses peleburan bahan baku. Bahan-bahan baku berkualitas yang sudah dicuci dan dikeringkan akan dilebur ke dalam mesin khusus atau yang kerap disebut dengan mesin caisen.
Mesin ini akan membuat bahan baku menjadi lebur untuk kemudian dicetak sebagai biji plastik. Bahan setengah jadi inilah yang kemudian akan digunakan untuk membuat tali rafia yang selama ini kita gunakan untuk berbagai keperluan.
Extruding (Pembentukan)
Langkah selanjutnya yakni membentuk biji plastik tersebut menjadi tali rafia. Biji plastik akan dimasukkan ke dalam mesin extruder untuk kemudian diolah sedemikian rupa menjadi gulungan besar dengan berat yang mencapai lebih dari 50kg.
Biasanya, pembentukan tali ini diawali dengan lembaran yang juga berukuran besar yang kemudian nantinya akan dibentuk sesuai standar atau ukuran yang diinginkan.
Dalam proses ini juga biasanya diberikan pewarna khusus untuk membedakan warna-warna dari tiap produk tali rafia yang diproduksi.
Packaging (Pengemasan)
Tali rafia yang sudah dibentuk tentu belum sepenuhnya jadi. Diperlukan proses pengemasan untuk menjadikan gulungan besar tali tersebut menjadi gulungan yang lebih kecil dan siap untuk dipasarkan.
Adapun langkah yang dilakukan yakni dengan pemintalan tali rafia kemudian dikemas sesuai ukuran maupun warnanya. Dalam pengemasan ini, biasanya juga akan diberikan label merek.
Dibedakan juga ukuran mulai dari 0,5 kg, 0,8 kg, hingga 1 kg untuk ukuran kecil hingga sedang. Sementara untuk kebutuhan industri yang lebih besar, biasanya pengemasan dilakukan dengan ukuran sekitar 50 kg.
Warna tali rafia yang diproduksi juga beragam, mulai dari warna netral seperti tali rafia hitam dan putih, hijau, kuning, merah, biru, dan sebagainya.
Menurut perkembangan sejarah tali rafia, warna-warna ini biasanya tidak disesuaikan dengan kualitas sehingga apapun warnanya, kualitasnya tetap sama.
Distribusi Tali Rafia
Langkah selanjutnya yakni pendistribusian ke berbagai agen atau warung. Pihak pabrik sebagai produsen juga seringkali mendistribusikan-nya ke berbagai industri yang membutuhkan tali rafia untuk proses pengemasan-nya.
Apalagi, jenis tali yang satu ini biasa dijual hingga ke seluruh Indonesia. Distribusi tali plastik ini biasa dilakukan melalui berbagai jalur, baik darat, laut, bahkan udara sesuai dengan permintaan pesanan.
Tidaklah mengherankan jika kemudian persebaran-nya bisa sampai seluruh Indonesia. Tali yang didistribusikan pun juga memiliki kualitas yang berbeda-beda.
Misalnya tali dengan kualitas baik biasanya lebih lembut, tipis, namun kuat dan harganya lebih mahal. Ada juga tali rafia berkualitas sedang yang biasanya lebih tebal, warna-warni, dan tidak mengkilat.
Demikian penjelasan dari Pabrik Tali Rafia mengenai sejarah tali rafia dan perkembangannya, terutama dalam proses pembuatan-nya.
Meskipun tidak banyak literatur yang membahas mengenai sejarah tali tersebut, namun perlu diketahui bahwa tali plastik ini memang memiliki manfaat yang besar.
Tidak hanya untuk kehidupan manusia namun juga untuk alam karena dapat dibuat dari limbah plastik. Nah, semoga info di atas dapat memberikan manfaat!






